KEMULIAAN PETANI DAN DUNIA AGRIBISNS

Oleh Dr. Sri Indaryati, SP.,M.Si.

Indonesia dikenal sebagai negara agraris karena tanahnya subur. Ada yang menyebut tanah Indonesia dengan sebutan Gemah Ripah Loh Jinawi artinya kaya, bahkan SYAIR lagu “Orang bilang tanah kita tanah surge Tongkat kayu dan batu jadi tanaman” inilah tanah Indonesia yang sangat subur. Masa perjuangan kemerdekaan, masyarakat tani mendominasi, Presiden pertama Indonesia ( Bung Karno) menyebutkan petani adalah tulang punggung identitas Indonesia. “petani”  sebagai  penjaga  tatanan  negara  Indonesia  tahun  1952.  Petani  dipandang  sebagai penjaga ketahanan pangan yang mandiri. Perkembangan dunia pertanian akhir-akhir ini menghadapi banyak ancaman. Pesatnya perkembangan industri juga telah mengubah pertanian. Bertani, yang dulu diinginkan, tidak lagi diperlukan dan dihindari serta ditinggalkan. Tentu saja kebijakan pemerintah tidak menguntungkan petani karena tingginya biaya dan kurangnya pupuk, buruknya dan kurangnya penyerapan produk pertanian pemerintah, dan lain-lain permasalahannya.

Agribisnis dalam Islam selain memberikan manfaat ekonomi untuk menghidupi keluarga, AKTIVITAS  AGRIBISNIS  adalah  bentuk  IBADAH.  Di  Tulis     La  Aa  Li  Maknunah  Allah  SWT menyebutkan  anugerah-anugerah  yang  Ia  karuniakan  agar  seseorang  mau  untuk  bercocok tanam.  Di dalam kitab al-Halal wa al-Haram fi al-Islam, Syekh Yusuf Qaradhawi menyebutkan bahwa Allah telah menyiapkan bumi untuk tumbuh-tumbuhan dan penghasilan. Oleh karena itu Allah  menjadikan  bumi  itu dzalul (mudah  dijelajajahi)   dan bisath (hamparan)   di  mana  hal tersebut merupakan nikmat yang harus diingat dan disyukuri. Allah swt berfirman;

 

 

 

“Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan. Agar kamu dapat pergi kian kemari di jalan-jalan yang luas. (QS. Nuh [71]: 19-20)

 

 

 

 

 

“Dan bumi telah dibentangkan-Nya untuk makhluk(-Nya). Di dalamnya ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang. Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang  harum  baunya.  Maka  nikmat  Tuhanmu  yang  manakah  yang  kamu  dustakan?  (QS.  Ar- Rahman [55]: 10-13). Selain bumi, Allah juga memudahkan adanya baik baik dari langit maupun bumi.  Dari  langit  Allah  turunkan  hujan  sedang  dari  bumi  Allah  alirkan  sungai-sungai  yang kemudian bisa menghidupkan bumi.

 

 

 

“Dan Dialah yang menurunkan air dan langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau, Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak. (QS. Al-An’am [6]: 99)

Allah meniupkan angin sebagai kabar gembira yang mampu menggiring awan dan mengawinkan tumbuh-tumbuhan.  Dalam hal ini Allah berfirman; Dan Kami telah menghamparkan bumi  dan Kami pancangkan padanya gunung-gunung serta Kami tumbuhkan di sana segala sesuatu menurut ukuran. Dan Kami telah menjadikan padanya sumber-sumber  kehiudupan untuk  keperluanmu, dan (Kami ciptakan pula) makhluk-makhluk yang bukan kamu pemberi rezekinya. Dan tidak ada sesuatu pun, melainkan pada sisi Kamilah khazanahnya; Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu. Dan kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan (air) itu, dan bukanlah kamu yang menyimpannya (QS. Al-hijr [5]: 19-22)

Rasulullah saw pun bersabda;

 

 

“Tidaklah seorang muslim yang menanam tanaman atau bertani kemudian burung, manusia atau pun binatang ternak memakan hasilnya, kecuali semua itu merupakan sedekah baginya. (HR. Bukhari)

 

Gambar 1.  Tanaman hasil panen dan kebutuhan hewan ( ayam, burung, sapi, tikus—rantai makanan)

Berdasarkan Gambar 1. Dapat di kaji bahwa hasil tanamannya dimakan oleh burung atau hewan ternak atau dimanfaatkan  oleh  manusia  maka pahala tersebut tetap terus mengalir kepada pemiliknya meskipun ia telah meninggal atau tanamannya berpindah kepemilikan K.H. Hasyim As’ari telah menulis tentang pentingnya bercocok tanam dan kedudukan kaum tani. pertanian mendapat perhatian yang sangat penting dalam ajaran Islam. Pemuda muslim patut berbangga dan mau berpartisipasi langsung dalam dunia pertanian. Semangat inovasi dan kreativitas dalam dunia pertanian harus ditingkatkan dan digalakkan. Hasilnya, produktivitas pertanian dapat ditingkatkan dengan menekan biaya produksi.

REFERENSI

Syaiful Rizal. S.Pd.,M.Pd. Kemuliaaan Menjadi Petani Petani .  https://iaiq.ac.id/blog/kemulian-menjadi- petani-dalam-islam/

Situmorang, Masni V. Biologi Dasar. CV Widina Media Utama, 2020.

Odum, E. P., Srigandono, B. (1993). Dasar-dasar ekologi. Indonesia: Gadjah Mada University Press. Al-Qur’an Tajwid Warna, Terjemah Indonesia: Plus Transliterasi Latin. (2015). (n.p.): Shahih.

Hadis Tarbawi: Hadis-hadis Pendidikan. (2015). Indonesia: Kencana Prenada Media Group.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *